Daily Life: Susahnya Ngedesain Lagi!

Beberapa waktu lalu, saya bertemu teman lama saya di waktu kuliah. Ceritanya saya jemput dia di bandara. Tapi saya telat, jadi saya nggak bisa yang seperti di film-film itu, nunggu orang sambil bawa kertas terus berlagak seperti sopir tua yang nggak pernah minta naik gaji.

Long story short, saya akhirnya bertemu dia, lalu dia bilang ke saya, “Mas, mau minta tolong didesainin dong.”

Sebagai gambaran, di awal saya harus beritahu bahwa saya bukan orang yang selo. Saya kerja 10 jam sehari, 5 hari dalam seminggu, dan di hari sabtu tetap harus stand by untuk jaga-jaga kalau ada klien yang menelepon. Di akhir pekan pun, saya biasanya selalu menyempatkan bersilaturahmi ke rumah orang tua, rumah kakak, atau nongkrong bareng teman-teman di solo. Belum lagi kalau ada kewajiban sebagai teman lelaki yang paling setia sama teman wanita saya (dia nggak mau dibilang pacar, syariah banget pokoknya), saya harus menunaikannya. Intinya, saya sibuk.

Tapi sebagai seorang mantan desainer handal yang selalu suka dengan tantangan, apalagi kali ini saya diminta untuk mendesainkan flyer sebuah BUMN besar yang beritanya sering dilihat di Tivi, maka saat itu juga saya bilang, “lihat permintaannya dulu deh, gimana.”

Akhirnya selang beberapa hari, teman saya itu mengirimkan materi flyernya melalui surel. Saya cuma lihat judulnya, lalu thumbnailnya di badan email, kemudian berkata dalam hati, “gampang ini.”

Setelah itu udah, tidak saya cek lagi.

Kemudian datanglah WA dari dia, “gimana mas, bisa nggak?”

“Buat kamu apa sih yang nggak bisa?” Entah kenapa jawaban itulah yang muncul dari tangan penuh dosa ini. Entah bagaimana, saya tahu suatu saat kebiasaan saya yang suka gombalin orang tanpa alasan yang jelas ini akan berakibat buruk bagi saya.

“Oke, ditunggu ya,” balasnya kemudian.

Nah, karena kesibukan dan rasa malas yang biasa terjadi (salah satu alasan saya bisa sampai kuliah lebih dari 7 tahun nggak lulus-lulus), akhirnya saya baru akan mulai mengerjakan di H-1 Deadline. Saya memang nggak bakat jadi freelancer. 

Saya cek lagi email yang masuk, dan kemudian baru sadar satu hal: YANG DIKIRIM ITU PDF SEMUA!

Artinya, meskipun saya paham materinya, tapi saya tidak bisa meng-copy-nya. Saya harus menulis ulang materi itu di Corel yang saya gunakan.

Damn! Pikir saya. Saya mengira itu adalah puncak kesialan saya hari itu.

Ternyata tidak.

Sebagai penyambung cerita, saya harus katakan bahwa saya sehari-hari menggunakan laptop yang dipinjamkan bos saya untuk bekerja. Akibatnya, laptop saya (yang berisi semua software dan data pribadi saya) tidak pernah digunakan. Kemudian, ada karyawan baru di kantor yang tidak memiliki laptop. Akhirnya, jadilah dia menggunakan laptop pribadi saya.

Nah, kemudian saat saya menyalakan laptop saya dan membuka Corel Draw saya untuk mengerjakan desain, muncullah pesan yang membuat jantung saya berdegup kencang.

Installation failed. Please Re-install the software.

Seketika itu juga, ada rasa merinding di belakang leher yang sangat tidak enak. Saya sadar bahwa file Corel Draw bajakan saya sudah korup. KORUP!

Saya coba install ulang lagi, tetap tidak mau. Keygen yang saya gunakan sudah tidak bisa men-generate serial number untuk instalasi. Saya yakin, penyebabnya adalah karena saya memasang anti virus avira yang langsung memberangus semua keygen yang saya miliki, sehingga part registry-nya tidak komplit.

Mungkin sih, karena saya bukan anak komputer juga.

Intinya Corel korup dan tidak bisa digunakan. Saya langsung panas dingin.

Ingin rasanya menghubungi teman saya dan mengatakan bahwa saya tidak mengerjakannya. Saya ingin membatalkannya.

Tapi, laki-laki yang sudah berjanji harus bisa dipegang ucapannya, bukan?

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak menyerah. Saya mencoba mencari file-file bajakan Corel yang lain di web. Tidak ketemu, malah nge-install virus. Huft.

Saya mencari file bajakan Corel di warnet yang terkenal memiliki jutaan file (film, game, software, dll) yang konon katanya kalau kita mau meng-copy semuanya, akan membutuhkan waktu 5 tahun lebih. Anjrit. Tapi akhirnya tetap tidak bisa menemukan Corel bajakan yang saya cari. Ada satu sih, tapi setelah saya coba install, tetap tidak berhasil.

Usaha ketiga, saya menghubungi kawan saya, tanya punya master Corel atau tidak. Dia bilang ada, tapi jawabannya bikin emosi, “wah sori bro, punya gue canggih, 64 bit, windows elu kan cuma 32 bit, kagak lepel.” Kampret.

Hari sudah berganti menjadi hari H deadline. Paginya saya masih bingung dan belum menemukan solusi. Padahal, pukul 10.00 saya ada undangan pernikahan teman kuliah (yang kebetulan namanya mirip dengan mantan saya) di luar kota. Akhirnya pagi itu saya berangkat ke nikahan teman dengan membawa utang desain yang menurut rencana saya harusnya sudah selesai kemarin malam.

Selesai dari pernikahan, saya sampai di rumah singgah saya di Jogja sudah maghrib. Ingin langsung istirahat tapi masih menyisakan utang. Saya memutar otak kembali. Ini bukan masalah capek soalnya, tapi masalah yang belum ada solusinya, hehe.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saya ingat bahwa ada mahluk di dunia ini yang bernama open source. Iya, ya, kan orang Linux nggak pakai Corel, mereka pakai software sejenis yang bisa didownload secara legal.

Oke deh, saya langsung cari open source yang mirip Corel. Awalnya saya download GIMP. Ternyata dia mirip Photoshop, bukan Corel. Kampret.

Akhirnya saya nemu juga softwarenya: Inkscape!

Mantap! Installnya cepet, legal dan gampang banget lagi. Langsung deh saya buka aplikasinya, dan…

Deng-deng-deng. Meskipun sistemnya memang mirip banget dengan Corel, tetap saja rasanya beda. Akibatnya proses desainnya menjadi lama.

Bayangkan, saya menghabiskan satu malam hanya untuk mencari cara mengganti ukuran background!

Ya, proses desainnya lama, dan sampai Hari H berakhir, saya tidak selesai.

Seperti layaknya freelancer handal, saya melakukan apa yang harus dilakukan: pura-pura nggak tahu kalau sudah habis deadline-nya dan nggak menghubungi yang bersangkutan.

Saya lanjutkan mengerjakan di hari berikutnya, pagi hari sebelum masuk kerja, waktu istirahat, dan di malam hari.

Akhirnya di H+2, saya berhasil menyelesaikan desain yang berdarah-darah ini.

Meskipun kalau ditanya, saya sama sekali tidak puas dengan kualitas desainnya. Karena banyak fungsi-fungsi di Corel yang menurut saya sederhana, tapi di Inkscape belum ketemu. Akhirnya saya menggunakan metode lain untuk mengakalinya, hasil akhirnya sama, tapi caranya beda. Cuman menurut saya agak lama aja sih.

Well, mungkin inilah kesempatan bagi saya untuk pelan-pelan berhijrah dari software bajakan ke software Open Source yang Insha Allah, halalan thoyyiban.

Saya pindah ke Inkscape yang benar-benar baru bagi saya. Artinya saya harus belajar lagi.

Tak masalah, bukankah belajar adalah proses yang selalu kita lakukan sampai mati?

Selamat malam mingguan, mblo!

Facebook Comments

About the Author

Sastranesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *